Tampilkan postingan dengan label GURATAN KISAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label GURATAN KISAH. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Maret 2018

Pergi untuk Kembali

"Seberapa besar tekad untuk pergi, kembali itu pasti"
Hasil gambar untuk stasiun yogyakarta

Tiga hari yang sangat menyenangkan di Surabaya, mendapat banyak pengalaman juga teman, sangat bersyukur tentunya dipertemukan dengan orang-orang yang super baik.
Setelah dinyatakan cukup, Minggu petang harus kembali ke rumah di antar oleh Sancaka yang sangat menyenangkan. Awak siji, mangkate selo, balike gawanane haduh pating greweng. Titipan makanan ngehitz Surabaya membuat kepulanganku mirip orang abis mudik lama, kiwo tengen gowo cangkingan. 

Sendirian. Tidak enak badan. Kesepian. Lengkap sudah. Pertama kali balik lewat Gubeng Baru, merasakan suasana baru dan di ruang tunggu saya dipertemukan dengan seorang ibu yang juga sedang dilanda kesepian karena melakukan perjalanan pulang ke Jogja sendiri. Katanya, belio bahagia bertemu dengan saya karena belio kesepian dan baru pertama bepergian sendirian. Waw sayangnya kami beda gerbong sehingga pertemuan kala itu berakhir di ruang tunggu.

Tak lama kemudian, saya melihat sosok yang tidak asing dengan gaya yang khas, baju muslim putih, kopiah putih, sarungan, dan menggendong tas eiger hitam. Ustadz Tajul Muluk. Wow, di tempat jauh begini melihat belio dan ternyata kami satu gerbong. Tidak pernah mengira akan bertemu orang di tanah orang. Hahaha.

Oke baiklah, cerita panjang ini berakhir dengan sedikit ngenes, sepanjang di kereta awake loro kabeh, batuk tak terkondisikan, untunge masih punya sisa bodr*x dan a*ua yang meminimalisir derita. Rasane rakaruan pokoke meh sambat kalih sinten yen sampun mekaten. Lungo-lungo dewe, neng dalan loro yo dirasake dewe. Haha

Sampai Jogja tengah malam dan pagi hari langsung menuju Paseban menjalankan amanat dengan semangat meski badan sudah liyudh dan setelah itu.............. Limang dino ora tangi ora metu seko omah. Hahahahaa

Tapi bahagianya Senin itu bisa bertemu dengan moodbstr meski sebentar, waw terima kasih Mas sudah memberi waktu luang untuk bertemu di tengah sibuknya kampus. Bye.

[Flashback beberapa hari lalu]
Sekeping syukur yang terserak
Yogyakarta, Januari 2018

Jumat, 27 Februari 2015

Siapa Gerangan?

Hasil gambar untuk kantor pos besar yogyakarta

Akhir-akhir ini Jogja panass sekali seakan matahari berada di atas genteng. Panas ngethang-thang yang membuat saya males keluar ini akhirnya takluk juga, bukan karena panasnya yang berkurang tapi tekad saya untuk keluar itulah penyebabnya. Keluar rumah dengan motor yang bensinnya sudah kedip-kedip membuat saya memilih kantor pos yang berada di Jalan Parangtritis sebagai tempat berlabuh. Tak membutuhkan waktu yang lama saya sudah berada di depan kantor pos kecil itu. Setelah say hello dengan petugasnya saya utarakan maksud saya datang kemari, ternyata kantornya sudah tutup sehingga saya tidak mendapatkan informasi yang saya inginkan di sana. "Besok ke sini lagi mbak, antara jam 09.00-11.30" jelas bapak yang berada di depan saya. "Baik pak, besok saya ke sini lagi. Terimakasih." Jawab saya sok calm padahal bener-bener pengen koprol. Datang ke kantor pos itu lagi jam segitu adalah hil mustahal bagi saya.

Setelah mengambil motor sambil berpikir, akhirnya saya putuskan untuk menuju ke kantor pos besar yang berada di kawasan 0km. Setelah memandangi speedometer beberapa detik akhirnya saya putuskan untuk tetap ke kantor pos besar. Saat mau membelok ke pom bensin ternyata antrinya panjang amat, dengan bismillah saya lanjutkan perjalanan di siang bolong itu tentu sambil harap-harap cemas. Saat melintasi Jalan Parangtritis sekitar Prawirotaman, mata saya rasanya pengen memandangi motor yang berada di depan saya. Sebuah motor berwarna hitam bermerk Re*o yang entah karena apa saya tertarik untuk memandangi motor itu. Hmm atau mungkin karena saya berhasil nyebrang di perempatan kecil nan padat bersama motor tersebut tadi. 

Setelah melaju beberapa meter, tiba-tiba saya kaget saat melihat tulisan kecil "Demi Indonesia" di bagian belakang sepatu yang dikenakan oleh pengendara revo tadi. Astagaa, ternyata itu sepatu DI 19 yang persis kaya punya saya.Siapakah dia? Nggak taulah saya, yang jelas kode nopolnya Z dengan sticker bertuliskan "GOVERNMENT" dan juga terdapat lambang UGM. Ah, masa bodohlah siapa dia, yang jelas gue suka gaya loo bro! haha

Setelah memandangi beberapa detik *sempet mo nabrak becak yang lagi sandar:p* . Langsung saya tancap gas agar bisa berada di sebelah mas misterius tadi. Peuh, dengan keringat yang mengucur deras karena hampir aja ketilep bapak-bapak yang bawa bambu panjang akhirnya saya bisa berada tepat di sebelahnya. Nggak mau menyia-nyiakan kesempatan, saya dengan pedenya langsung ngomong, "Mas, sepatunya keren!" Saya menengok sebentar dan melihat senyum manis mas misterius itu sebelum akhirnya saya tancep gas karena di depan sana traffic lightnya menyala hijau. Akhirnya, kami berpisah di perempatan Pojok Beteng Wetan. Mas misteriusnya belok kanan, saya lurus.
                                                                            ***

Perjalanan selanjutnya saya lalui dengan penuh kegemasan. Sejak kemarin saya merasa pengendara motor di Jogja semakin brutal ajee. Main tikung kanan-kiri. Untung aja bisa mengendalikan, kalau nggak bisa mengendalikan, udah pasti nyungsep atau ngglangsar tadi. Saya sempat berhenti di traffic light Gondomanan, menurut saya Gondomanan itu adalah perempatan paling besar *dalam artian serem* di Jogja. Polisi pada nangkring di pos sebelah kiri setiap hari dan di sana sudah termasuk kawasan tertib lalu lintas gitu. Ah tapi nyatanya ga tertib. Saya yang seharusnya belok kiri jalan terus harus ikut menikmati lampu merah karena terhalang oleh pengendara motor yang ngeyup di bagian kiri.
Saya mencoba untuk nahan ngomyeng, menggantinya dengan istighfar dalam hati. Karena kalau dituruti ngomyeng terus, bisa-bisa setiap kali mengendarai motor pasti ngomyeng, dan betapa banyak dosa saya jika harus ngomyeng setiap hari *abaikan*. Begitu lampu menyala hijau, saya ambil kiri dengan hati-hati dan teliti sambil ngecheck lampu depan.  *takut kalau ada polisi yang nilang* Setelah merasa aman, saya lanjutkan perjalanan dengan kecepatan hanya 35km/jam, pelan bukan? Yaa, untung saja saya mengendarai pelan, padahal jalanan depan Taman Pintar itu benar-benar lengang, biasanya sih saya memanfaatkan moment untuk melaju kencang, tapi kali ini tidak kepikiran seperti itu.
Di depan saya ada mobil menyebrang, saya rem perlahan-lahan dan akhirnya mobil tadi menyebrang dengan aman dan nyaman. Baru berjalan sekitar 10 meteran, tiba-tiba ada ibu-ibu mengendarai sepeda yang menyebrang asal jebreet saja, tanpa melihat kanan-kiri. Spontan saya tarik rem depan dan ibu tadi juga tampak kaget. Kesal? Iya sebenarnya, saya langsung lemes kalau berhubungan dengan hampir nabrak-menabrak, mood juga jadi berantakan. Tapi akhirnya saya batalkan kekesalan tadi sambil berdoa semoga tidak ada lagi orang seperti ibu tadi yang menyeberang sembarangan lagi.

Dan akhirnya sampailah saya di kantor pos besar. Begitu masuk ke dalam bangunan kuno tersebut, saya langsung tanya ke security. Walaupun jawaban dari security tidak menyelesaikan permasalahan saya, tapi setidaknya ada kabar baik yaitu customer service tutup pukul 14.00 siang. Setelah berterima kasih saya lalu keluar. Sempat saya 'mbatin' kalau cuma parkir bentar apa ya harus mbayar, setelah sampai di motor saya keluarkan dompet dan mengambil satu lembar sepuluh ribuan. Sambil memandangi dompet yang mirip 'brambang' ~ nek dibuka marakke mbrebes mili, dari situ saya paham ternyata uang saya minggu ini tinggal 2 lembar sepuluh ribuan. Alhamdulillah ._.

Nah saat saya sudah mengikhlaskan uang selembar sepuluh ribuan itu berpindah tangan, tiba-tiba petugas parkir menyapa, "Lho kok sebentar sekali mbak? Nggak jadi po?" Saya menjawab dengan separuh sadar, "Engg.. Nggak jadi Pak." Lalu petugas parkir berkata sambil menyodorkan uang milik saya tadi, "Yasudah ini di simpan saja mbak." Aduhaai baik sekali bapak ini, pada saat posisi genting keramat seperti ini uang selembar sepuluhribuan menjadi sangatsangatsangat berharga. 

Setelah itu saya menuju ke rumah. Berharap menemukan pom bensin untuk menyegarkan kuda besi
ini. Tapi sesampainya di dekat rumah belum juga menemukan pom bensin *emang nggak nglewatin pom kelees._.* . Alhamdulillah dobel-dobel untuk hari ini, alhamdulillah bertemu dengan mas misterius, alhamdulillah untuk di kantor pos, alhamdulillah selamat sampai rumah, alhamdulillah bensin masih kuat sampai rumah, dan alhamdulillah lainnya. Sekian cerita saya ini, sekedar untuk memperbaiki mood dan menumpahkan uneg-uneg hari ini saja. Salaam rock and calm!:3


Yogyakarta, 7 Maret 2014
Aina Ulfah,
Sekeping syukur yang tertinggal

Sabtu, 14 Desember 2013

Jakarta #1

"Perjalanan ini bukanlah kali pertamanya, tapi perjalanan kali ini justru yang paling memberikan banyak pengalaman dan membahagiakan"



25 Oktober 2013 saya beserta 5 orang saudara dan juga ibu saya rencananya akan berangkat menuju Jakarta. Perjalanan ini sudah direncanakan oleh keluarga saya sejak dulu. Tujuan kami pergi ke Jakarta adalah menghadiri pernikahan sepupu saya. Perjalanan Jogja-Jakarta kami tempuh dengan kereta api, tiket sudah kami kantongi sejak 2 minggu sebelum tanggal keberangkatan. Walaupun sudah direncanakan sejak dulu, tapi kenyataannya untuk membahas masalah transportasi saja sampai mbulet, mungkin karena faktor banyak orang = banyak pemikiran jadinya malah nggak segera menemukan jalan keluar. Rencana awal kami akan berangkat menggunakan mobil sendiri, tapi ujung-ujungnya naik kereta juga. 

Hari-hari setelah mendapat tiket, kami mulai bingung mempersiapkan segala sesuatunya. Kalau orang tua pada bingung masalah yang sedikit kompleks, kalau kami masalah jadwal kerja, kampus, juga jadwal sekolah. 2 kakak saya sudah dapat jalan mulus, lain halnya dengan saya yang sedikit menemui jalan terjal. Ternyata pada 26 Oktober 2013 di sekolah saya ada ODT, ODT (Orientasi Dasar Tegak) adalah pelantikan kenaikan pangkat dalam pramuka secara simbolis. Garis besar acaranya adalah berjalan beberapa kilometer dari sekolah-tempat yang ditentukan pulang-pergi. Karena tiket yang saya pegang berangkat tgl 25 dan pulang tgl 28, maka mustahil jika saya dapat mengikuti ODT.

Jumat, 29 November 2013

Yogyakarta, Selamat Ya!

"Tidak sengaja saya menemukan catatan ini di buku harian saya. Biar tambah uhuy, maka saya posting di lapak saya sekalian. Hehe:3 Latepost sih. Tapi nggak masalah deh."


(Upacara HUT Kota Yogyakarta di Balaikota)

 (Upacara memperingati HUT Kota Yogyakarta)
(Festival kesenian dalam rangka HUT Jogja)

(Pesta Rakyat Jogja memperingati HUT Kota)


Hari ini, Senin, 7 Oktober 2013 tampak ada yang berbeda. Pagi ini berangkat menuju sekolah di jalan berpapasan dengan anak sekolah yang mengenakan pakaian jawa. Saat itu saya langsung membayangkan atau lebih tepatnya mengada-ada dan menduga, "ah ini suasana beberapa puluh tahun yang lalu." Namun anganan itu terpecah oleh deru kendaraan bermotor yang membelah keramaian Jogja. 

Senin, 25 November 2013

Nggak Nekat, Nggak Ada Yang Bisa Diingat

(Bersama mamak dan kakak-kakak)

(Bersama abah)
(Bersama abah dan kakak-kakak)



“Kalau nggak nekat, nggak ada yang bisa diingat!” kalimat ini selalu terbayang di pikiran saya. Terdengar sedikit nakal, tapi memang kenyataannya kalau nggak nekat ya nggak dapat. Pagi itu, Minggu, 24 November 2013 saya sudah bersiap untuk bertemu teman-teman. Kemarin saya dapat kabar dari Mas Ricky Elson kalau abah mau datang ke Jogja, walaupun saya tidak tau kepastian jadi atau tidaknya, tapi saya tetap janjian ketemuan dengan teman-teman entah abah jadi datang atau tidak. Karena ketidaktahuan dan kepastian yang mendadak maka kami tidak sempat woro-woro kepada yang lain, jadi janjiannya dengan teman-teman yang biasanya saja karena yg jelas mau diajak mbonek.

Kamis, 14 November 2013

Disetiap Kesusahan Terselip Sebuah Kebahagiaan



(Saya paling kanan dan sebelah kiri saya adalah Titis - 2010)


Rabu sore setelah pembinaan OSN selesai, saya dan teman berniat mengunjungi sebuah tempat di belakang Telkom Kotabaru. Maka setelah pulang kamipun meluncur kesana. Setelah selesai semua urusan di Kotabaru, saya nebeng sampai halte depan SMP 5. Niatnya naik di sana lalu turun di SMA 7. 

Menunggu TransJogja 3A lumayan membuat garing. Untung saja suasana mendung jadi nggak begitu kemripik.

35 menit kemudian busnya datang. Penuh sesak dan jelas ngga dapat tempat duduk. Masuk tak tahan keluar tak segan. Haha tapi akhirnya masuk juga walau di dekat pintu. Okelah desak-desakan dan berdiripun gapapa demi sampai rumah. Setelah jalan beberapa meter, saya melihat ke belakang, sosok berkacamata yang tak asing lagi dalam memori saya. Woooow. Ternyata Titis! Teman SMP yang 3 tahun kemarin selalu satu kelas dengan saya.

Minggu, 20 Oktober 2013

Berburu Dahlan Iskan, Tetap Sekolah!


                            


Sabtu pagi akan ada senam bersama Dahlan Iskan di Balaikota Yogyakarta. Sebenarnya saya cukup sedih, karena pagi saya harus menunaikan kewajiban sebagai seorang pelajar. Lalu saya mendapatkan ide, karena senam dimulai pukul 06.00, maka saya datang ke Balaikota sebelum pukul 6 dan sudah mengenakan seragam, nantinya pukul 07.00 saya berangkat. Lumayanlah bisa merasakan suasana di sana.

Malam ini, saya pulang pukul 00.23 , maka sesampainya di rumah saya menyiapkan apa yang akan saya bawa ke sekolah besok lalu tidur karena jam 04.00 saya harus bangun. Tapi malam ini saya nggak bisa tidur, apa karena terlalu merasa bahagia? Ah bisa jadi, saya terlanjur membayangkan betapa bahagianya tadi.

Sabtu, 19 Oktober 2013

Berburu Dahlan Iskan, Lagi #1

"Malam yang sangat mengesankan, unforgotable. Terimakasih semuanya"



Siang itu udara panas menyelimuti Jogja, tapi saya tidak menghiraukan bagaimana panasnya karena saya sibuk membayangkan rasanya bertemu Pak Dahlan, Menteri BUMN yang saya idolakan. Bayangan saya terpecah ketika ada pesan masuk dari Pak Erwan, isinya tentang rundown kegiatan Pak Dahlan di Jogja. Begitu tau kegiatannya, saya membayangkan lagi betapa asyiknya jika dapat mbuntuti Pak Dahlan selama di Jogja. Jam terakhir di kelas isinya hanya membayangkan, membayangkan, dan membayangkan. Begitu bel pelajaran berakhir, saya mengikuti mentoring sebentar sebelum akhirnya memutuskan untuk pulang. Bye Smada, maaf nggak nungguin yang lagi jumatan:p

Menurut jadwal, Pak Dahlan tiba di Jogja pukul 17.00. "Kudu piye ki?" tanya saya kepada Mas Fajar dan Mas Ryo. Setelah menyusun rencana akhirnya kami memutuskan untuk mencegat di Hotel Tentrem. Hehe keputusan yang nekat. Kami berangkat jam 16.00, nunggu lama nggak masalah yang penting nggak ketinggalan. Eh pas mau berangkat ternyata Mas Fajar masih mengerjakan tugas dan nanti kalau selesai mau nyusul. Berarti yang ke Tentrem duluan hanya Mas Ryo dan saya.

Kamis, 17 Oktober 2013

Catatan Pribadi

Semburat merah di ufuk barat,
Yogyakarta, 8 Oktober 2013


Suasana Stasiun Besar Yogyakarta malam itu



Bersama Mas Ricky di depan Stasiun Tugu


Mbak Betty, Mas Ricky, dan saya

Siang ini pelajaran berakhir lebih awal karena akan diadakan orasi calon ketua OSIS di sekolah saya. Acaranya seperti kampanye pada umumnya itu, hanya saja penontonnya warga Smada saja. Sudah beberapa periode dalam menyelenggarakan pemilihan ketua OSIS, SMA N 2 Yogyakarta bekerja sama dengan KPU, sehingga dalam pelaksanaannya hampir sama dengan pemilihan umum yang diadakan setiap 5 tahun sekali itu.

Sabtu, 05 Oktober 2013

Memburu Dahlan Iskan #3

Ikut Kibarkan Bendera Start

Masuk Radar Semarang 


This is Dahlan Style


Foto bersama Dahlan Iskan di pelataran Gedung DPRD Jateng


Foto bareng Dahlan Iskan 


Acara Nggowes dan Senam Bareng Dahlan Iskan dalam rangka ultah ke-13 Radar Semarang dijadwalkan Sabtu (11/5) mulai pukul 06.00. Dahlanis Jateng-DIY telah mengagendakan satu acara pendukung di acara itu. Donor darah bekerja sama dengan PMI Kota Semarang. Selain itu, Dahlanis juga diberi satu ruang untuk membuka stan.
Uba rampe untuk donor darah dan mengisi stan itulah yang malam harinya harus disiapkan. Donor darah Dahlanis ini dikordinir oleh Setyadi. Tim Dahlanis dari Jogja pun nimbrung, membantu menyiapkan aksi sosial ini. 


Memburu Dahlan Iskan #2

Bapakpun Ikut Menemani



Nih foto Pak Dahlan sama pak polisi di PP.Al Qodirin


Numpang foto di Graha Pena Radar Semarang



Sesiang bersama Dahlan Iskan, belum cukup memuaskan Aina akan sosok idolanya. Ia pun akan “melanjutkan” pengenalannya terhadap tokoh yang dikaguminya sejak kelas satu SMP itu. Saat itu Dahlan Iskan menjadi direktur utama PLN. Gebrakan sejuta sambungan dalam sehari yang dicanangkan Dahlan untuk mengatasi keluhan warga atas lamanya waktu tunggu sambungan jaringan, membuat Aina terkesima juga heran. Maka, ia pun mencari tahu sosok Dahlan Iskan. Ia cari referensi seputar Dahlan. Di koran, di internet, di buku-buku perpustakaan maupun ke orang-orang.

Memburu Dahlan Iskan #1

Dapat Tanda Tangan, Ditraktir Makan Siang





“Horreee...! Akhirnya dapat juga tanda tangan Abah!” teriak Aina Ulfa kegirangan. Wajah sumringah terlihat jelas. Dua buku yang ia tenteng sudah ditandatangani oleh Abah. Begitu ia menyebut Dahlan Iskan. Dua buku itu semuanya tentang Dahlan Iskan, menteri BUMN yang sepak terjangnya dikagumi oleh banyak orang, termasuk Aina Ulfa.

Setengah Jam Bersama Ricky Elson, Sang Putra Petir

"Malam itu saya bahagia sekali karena bisa bertemu dengan Mas Ricky, tapi sayang saat itu saya belum bisa bertanya-tanya karena faktor N -Nglindur- Hehe. Semoga lain waktu bisa bertemu lagi dan bertanya banyak apa yang ingin saya tanyakan."



Bersama Ricky Elson di Lesehan Malioboro


Pekerja pabrik mulai berhamburan keluar ketika saya pulang dari sekolah. Ya, saya pulang bersamaan dengan kepulangan mereka setelah seharian bertarung dengan peluh demi kehidupan. Sesampainya di rumah, saya membersihkan diri lalu beristirahat sejenak, tertidur. Tak ada rencana tidur, tapi kenyataannya saya memang tertidur. Hzzz

Dari Maya Menjadi Nyata

"Ini adalah kali pertamanya saya bertemu dengan Bu Inung, dr.Z, Mas Joni, dan istrinya. Luar biasa bahagianya, selama ini hanya bersua melalui dunia maya akhirnya kami berkesempatan untuk bertatap muka."



Hari ini, tepatnya H+1 lebaran saya ada janjian dengan Bu Inung, Dokter Z, dan Mas Joni untuk bertemu, menyambung silaturahmi yang selama ini kami bangun di dunia maya. Bisa dikatakan, pertemuan perdana dengan saudara dari Bogor dan Semarang ini penuh perjuangan. 

SARUNGAN

                                                    


Sarung adalah sepotong kain lebar yang pemakaiannya dibebatkan pada pinggang untuk menutupi bagian bawah tubuh. Sarung sudah lekat dengan ciri khas masyarakat muslim di Indonesia walau pemakaian sarung tak merujuk pada identitas agama tertentu. Sarung biasa digunakan untuk beribadah, selain itu bisa juga digunakan untuk selimut atau fungsi lain karena sarung memang fleksibel dalam masalah penggunaan.

Jumat, 04 Oktober 2013

SMADA JAYA!


"Ini adalah tempat di mana setiap harinya kami berbondong-bondong datang untuk menuntut ilmu. Semoga berkah dan Smada memberikan sesuatu yang melegakan. Terima kasih Allah .."


Secuil Kisah Bersama

27 Oktober 2012




Ini di Joglo, saat foto yearbook, 27 Oktober 2012.


                                                          Titis, Vita, Findi, Aina, Agung, Yusril

The Day When She Was Died


"Aku tak menyangka jika waktunya telah tiba. Aku mencoba untuk kuat dan tabah. Tapi, air mata itu akhirnya menetes juga. Tapi aku tak ingin orang lain melihatku sedih dan menangis, cepat-cepat kuusap air mata itu. Saat itu aku terlihat lebih kuat daripada ibuku atau saudaraku yang lain."

Ini sebuah lagu istimewa khusus kupersembahkan untuknya, karena inilah lagu yang aku dengarkan di sebuah radio saat aku mendengar kabar bahwa dia telah tiada. 


GARA-GARA TIKUS BERTEMU TOKOH IDOLA

(Sidoluhur, Minggu, 28 Juli 2013)

"Ya! Gara-gara tikus! Karena kalau bukan ulah tikus, hari itu saya tidak bisa bertemu dengan sosok yang saya kagumi, Dahlan Iskan!"



Sore itu menunjukkan pukul 16.00, matahari mulai ancang-ancang untuk kembali ke peraduannya dan saya masih terkapar tak berdaya di depan tv, belum ada tanda-tanda beranjak dari tempat itu.

GOWES NEKAT :D

"Ini pengalaman saya saat mengisi waktu liburan 3 bulan. Kenangan bersama teman-teman yang kini sudah tidak bertemu setiap hari"



Cerita ini berawal ketika malam itu Mas Yana mengajak aku dan teman-teman #dekade nggowes. Lalu setelah menghubungi beberapa teman, kami sepakat gowes besok pagi dengan tujuan ke Makam Raja Imogiri. Yuhuu, dengan senang hati aku ikut. Kami janjian jam 5.45 kumpul di sekolah. Setelah sms sana sini ternyata yang akan ikut adalah Mas Yana, aku, Arina, Bangkit, Dhimas, dan Ilham. Tadinya Mas Yana ngajak Tunggul, tapi Tunggul nggak janji bisa bangun pagi *kebiasaan* Haha.